Jumat, 22 Februari 2013

Don't Give Up

Jangan Menyerah

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali sgala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah…
Jangan menyerah……
Jangan menyerah………

     Hiruk piruk kota Makassar serasa ikut menertawakan nasibku. Aku sama sekali tak menyangka akan begini jadinya. Ingin rasanya aku berlari hingga maut menjemputku, melupakan segala sesuatu yang terjadi. Tapi aku masih terpuruk di sini, di rumah terkutuk ini. Aku tak tau mimpi apa aku semalam, sehingga aku tertimpa nasib seperti ini. Mimpi di patuk ular barangkali, atau mimpi di makan serigala. Sungguh aku sama sekali tak percaya. Tuhan… aku mau binuh diri saja.

Merah darah menghiasi lantai kamarku…
Rasa tak sadar mulai mendatangiku. Dalam kesadaranku yang hampir hilang, masih bisa kupandangi langit-langit kamarku, yang di cet biru langit. Warnaku. Warna kebebasanku.
Merah darah mengalir dari pergelangan tanganku…
Aku terkurung dalam kegelapan, sunyi, sepi, sendiri…
Gelap…

888

“Lin, jadi kan entar malam?” bisik Dini pelan-pelan, takut di dengar dosen filsafatku.
“Iya!” jawabku singkat.
Sebagai jawaban Dini hanya mengangkat kedua jempolnya.
     Namaku Linda, mahasiswi semester 6 jurusan Ekonomi. Sebagai seorang mahasiswi yang jauh dari orang tua, aku sangat menjaga diriku. Apalagi, Makassar penuh dengan godaan. Aku sangat selektif memilih teman, bagaimana tidak, sudah banyak teman sejurusanku yang terjerumus pergaulan bebas. Lebih gila lagi, mereka dengan tidak malunya mengumbar-umbar hal itu di depanku, mengajakku. Mereka bilang banyak cowok jurusan lain yang naksir padaku.
     Iya bisa di bilang, wajahku memang lumayan cantik, dan bodyku langsing semampai. Padahal makanku banyak. Cemilanku tidak pernah putus. Tapi badanku tetap normal.
Sudah banyak cowok sejurusanku yang nembak. Tapi semua kutolak hanya karena seorang cowok pendiam. Levin namanya. Cowok cool, yang sudah membekukan hatiku sejak masih mahasiswa baru.
“Baik, pertemuan kita lanjutkan pekan depan.”
     Lamunanku buyar oleh perkataan dosenku. Dengan serampangan kurapikan kertas dan alat tulisku. Kumasukkan seadanya ke dalam tasku.
Levin yang duduk 5 bangku di depanku dengan cepatnya meninggalkan kelas.
“Yah…! Telat lagi!” pikirku dalam hati.
     Selalu ingin ku ajak dia ngobrol, tapi lebih sering dia hilang entah ke mana. Ketika aku dan teman sekelasku istirahat dikantin, entah dia ke mana.
“Linda entar malam jadi kan?” Dini sekali lagi menanyakan hal yang sama.
“Jadi dodol!” jawabku jengkel, hari ini sudah 8 kali dia menyanyakan hal yang sama.
“Wah, asyik nih!” kata Dini girang.
Malas aku ngobrol dengannya.
     Kemarin Dini mengajakku ke cafe, katanya Party wisudawan seniornya. Sebetulnya aku paling malas jalan ke tempat seperti itu, tapi karena Dini bilang Levin ikut, jadilah aku bela-belain datang.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 3 sore. Capek juga rasanya kuliah siang gini.
“Linda cayang, entar malam aku jemput yah!” kata Dini centil.
“Hm..!” jawabku sekenanya.

888

Sekali lagi kupandangi dandananku di cermin. Terlalu biasa menurutku, tapi lumayanlah. Kurapikan celana jeansku sekali lagi.
Sial sudah setengah jam aku menunggu Dini, katanya dia telat karena macet.
     Kusempatkan baca novel Harry potter kesayanganku untuk menutupi kejengkelanku pada Dini, padahal sekarang sudah pukul setengah 10 malam. Mana tugas portofolioku belum kuselesaikan.
“Demi Levin” pikirku dalam hati.
Pip… pip… pip…
“Akhirnya!” kataku jengkel.
Kusimpan novelku di atas ranjangku. Kulihat sekali lagi dandananku di cermin. Lalu cepat-cepat kukunci rumah kontrakanku.
     Mobil Honda Jazz hitam mengkilap sudah menungguku. Dini keluar dari pintu belakang, hanya mengenakan kaos tank top, dan rok mini sepaha.
“Halo Linda!” sapanya centil. “Yuk”
     Dengan berat kulangkahkan kakiku ke mobil itu. Entah mengapa tiba-tiba ku ingat bapakku di kampung. Segera kutepis perasaan tidak enak itu.
     Ternyata bukan hanya Dini yang ada di dalam mobil itu, masih ada 3 cowok yang sama sekali tidak kukenali. Mereka semua nyengir kepadaku. Kubalas dengan senyum tipis seadanya.
“Kenalin Lin, ini Riko!” kata Dini menunjuk cowok bertopi.
“Yang ini Doni” katanya menunjuk cowok yang menyetir mobil.
“Dan yang ini Sammy” katanya menunjuk cowok yang memakai jaket.
“Halo!” jawabku singkat. Dengan cepat kulupa nama semua cowok yang ada di dalam mobil itu.
Cepat-cepat aku masuk ke dalam mobil itu.
Dengan cepat pula Honda jazz itu meluncur, memasuki dunia malam kota Makassar.

888

     Kupandangi punggung Levin yang tinggi atletis itu. Tak kusangka akan begini jadinya. Dini betul Levin juga datang. Tapi ternyata dia kerja jadi pramusaji di kafe ini.
Kulihat dini sudah teler di sampingku. Entah sudah berapa sloki yang ia minum.
     Yang bikin sakit hati, ternyata bukan seperti party yang kubayangkan. Party wisudawan senior Dini ini ternyata hanya acara minum-minum saja. Tamunya aja cuman kami berlima ditambah senior Dini yang entah kenapa dandanannya mirip sekali dengan Dini.
     Sudah berkali-kali cowok bertopi menawariku minum, tapi selalu kutolak dengan kasar. Saya memang paling anti dengan segala minuman keras. Dengan kasar kutepis tangan si cowok bertopi yang selalu menawariku minuman.
Sekali lagi kupandangi tubuh Levin, dia masih sibuk melayani meja lain.
“Ayo dong Linda!” sekali lagi si cowok bertopi menawariku minuman.
“Nggak!” jawabku kasar, aku mulai emosi. “Dini antar aku pulang!”
“Entar dong!” katanya centil. “Kan belom malam”
Kulihat jam tanganku, pukul 12 malam.
     Dengan resah kupandangi jalan di luar yang masih sangat ramai. Dalam keresahan hatiku, sekali lagi kuingat wajah bapakku bersama almarhum ibuku. Aku makin resah.
“Mas!” cowok berjaket memaggil pelayan. “Tambah minumnya dong!”
“Linda!” kata suara pelan membuyarkan lamunanku. “Ngapain kau di sini?”
     Kulihat Levin membawa dua botol topi miring ke meja kami. Tatapannya sangat tajam bercampur heran menatapku. Botol minuman masih kuat di gengamannya.
Aku speechless.
     Selama ini aku yang bela-belain ngobrol sama Levin, tapi kenapa setelah dia yang ngajak ngobrol aku malah speechless.
“Linda!” katanya sekali lagi menatapku kecewa.
Aku menyesal melihat tatapan kecewa di matanya.
     Dengan cepat Levin menaruh botol minuman yang di bawanya ke atas meja. Lalu cepa-cepat dia meninggalkan meja kami.
Aku galau.
“kenapa Lin?” kata Dini setengah sadar. “nih minum!”
     Dini menyodorkan air mineral padaku. Dan dalam kegalauan hatiku, kuambil air itu, kubuka tutupnya dan kuminum seteguk.
     Dalam kegalauan hatiku, dan rasa penyesalan yang dalam, kurasa kantuk yang sangat menyiksa. Kupandangi senyum kemenangan si cowok bertopi.
Dalam kesadaranku yang nyaris habis, kulihat punggung Levin yang semakin menjauh.
Kulihat lagi Senyum senang si cowok bertopi.
Kabur… lalu gelap…

888

Seumur hidup baru sekali ini rasanya aku mau mati saja.
     Kuingat tadi pagi aku terbangun dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Sendiri di rumah kontrakanku.
Aku terenyuh..
Aku telah ternodai…
     Dengan marah kulempar bantalku ke tembok. Ku hamburkan seprei ke lantai. Kucakar badanku hingga merah berdarah.
Jengkel. Marah. Terkhianati. Rasa sesal. Malu. Semua bercampur aduk dalam benakku.
Belum habis rasanya air mataku menyesali keadaanku.
Kulempar handphoneku ke tembok.
Kulihat handphone itu hancur berantakan.
Kuhamburkan alat tulisku di meja belajarku secara kasar serampangan.
Aku menangis sejadinya.
Kuperhatikan kamarku yang berantakan dan kulihat dia di sana.
Ku ambil dan kuamati dengan seksama.
Dan tanpa piker panjang kugunakan dia di pergelangan tanganku.
Rasa panas serasa menjalar dari pergelangan tanganku.
Gunting itu jatuh tanpa tenaga dari tanganku yang lain.
Merah darah mengalir dari pergelangan tanganku.
Kabur… lalu gelap….

888

Mimpiku aneh. Aku serasa berada di padang luas. Di ujung padang itu kulihat ibuku duduk sendiri. Tersenyum seakan menyambutku. Kudekati beliau. Lalu kucium tangannya.
“kenapa sayang?” Tanya beliau lembut.
     Aku hanya bisa memandangi wajahnya yang bersih. Ingin rasanya aku menangis, tapi aneh karena air mata tidak keluar dari mataku.
     Kubaringkan tubuhku di kursi itu, dengan paha ibuku sebagai bantalku. Beliau belai rambutku penuh sayang, sambil menyayikan lagu nina bobo. Lagu kesayanganku sebelum tidur.
     Aneh, lama rasanya aku di belai seperti ini. tapi aku merasa masih sanggup jalani semua ini selamanya.
Angin sepoi membelai membawa aroma bunga padang yang wangi.
“Linda ngantuk bu!” kataku sambil memejamkan mata.
“jangan tidur dulu sayang!” kata ibuku lembut.
“tapi kenapa?”
“tunggu sebentar lagi yah!”
Aku semakin mengantuk. Tidak kujawab lagi ucapan ibuku.
“linda..!” kata suara ibuku lembut. “bangun sayang!”
Pelan-pelan kubuka mataku yang mengantuk. Sangat berat.
“knapa ibu..?” jawabku pelan.
     Tapi tidak kurasa lagi belaian ibuku, tapi yang kurasa kekosongan di hatiku. Kusadari aku berada dalam satu ruangan bersih. Entah mengapa tubuhku terasa lemas tanpa tenaga. Ingin kugerakkan jariku, tapi baru kusadari tanganku dalam genggaman tangan seseorang.
“bapak!” ucapku lirih.
Lalu sosok itu perlahan-lahan bangun.
“linda..!” kata suara yang tidak asing, tapi perkiraanku salah karena ia bukan bapakku.
Kufokuskan pandanganku yang sebetulnya masih kabur, dan kudapati dia di sana.
Levin dengan lembut menggenggam tanganku.
“Levin!” kataku tak percaya. “ngapain kamu di sini?”
“udah! Nggak usah banyak ngomong dulu” kata Levin lembut. “bapak kamu lagi makan di kantin, kasian dari kemarin belum makan.”
     Kututup mataku perlahan. Rasa ngantuk mulai menyerangku lagi. Kurasakan belaian lembut di keningku. Dalam kesadaranku yang nyaris habis, ku dengar bisikan lembut Levin di telingaku.
“Linda kamu jangan khawatir yah, bagaimanapun jadinya kamu nanti, aku akan selalu ada di sisimu. Jangan menyerah dengan keadaan ini. Kamu harus sabar dan tak boleh putus asa. Kamu harus janji melakukan yang terbaik, untukmu, bapakmu, dan untukku. Karena aku akan selalu menyayangimu…”
     Aku tersenyum, kata-kata itu persis yang ia ucapkan dulu waktu ospek. Sewaktu ia di kerjai oleh seniorku nembak aku.
Tak lagi kurasakan kekosongan dalam hatiku, yang kurasa kini adalah belaian lembut dan genggaman seorang yang kutau tak akan pernah meninggalkanku. Ku balas genggamannya dengan lemah.
Dan kurasakan ia mengecup keningku dengan lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar